Kalau membicarakan hal yang satu ini,pasti deh hati bawaannya adem mulu. Saya selalu berpikir bahwa betapa damainya hati para wanita berjilbab. Dan saya ingin menjadi salah seorang dari mereka. Tapi saya belum mampu dan belum siap dengan segala konsekuensi yang harus saya hadapi sesudahnya.Karena bagi saya kecantikan dan kharisma seorang wanita akan nampak manakala ia memakai jilbab.Karena pola pikir yang demikian itulah bagi saya bila seorang wanita memutuskan untuk menutupi auratnya dengan berjilbab maka ia harus mengimbanginya dengan cara ia bersikap dan bertutur kata.Tapi bukankah orang yang berjilbab walaupun buruk tingkah lakunya itu lebih baik daripada mereka yang sama sekali tidak berjilbab tapi berkelakuan sama? Hhhh… entahlah, saya tidak tahu. Yang jelas menurut saya, selama niat baik tetap ada di benak kita dan kita berusaha untuk “berjilbab” luar dalam, saya rasa hal itu sah-sah saja. Dalam artian kita sama sekali tidak bermaksud untuk berkelakuan buruk seperti yang orang kira.Karena tentu saja intensitas seseorang berkelakuan kurang baik atau tidak itu sangat relatif. Bisa saja yang menurut kita adalah hal yang biasa saja alias lumrah tapi menurut orang lain tidak demikian.Ingat, no body’s perfect.Mungkin karena alasan itulah sampai sekarang saya belum mengetukkan palu tiga kali untuk memakai jilbab secara permanen. Karena jujur saja, saya merupakan salah satu dari sedikit manusia yang memiliki nyali ciut alias pengecut. Saya masih takut dengan opini orang karena sikap saya yang belum pantas disandingkan dengan jilbab yang akan saya kenakan nanti.Masih banyak yang harus saya benahi dari diri saya sebelum meminang jilbab sebagai teman hidup saya. Jika saya berjilbab nanti saya ingin benar-benar lahir batin.Saya tidak mau memakai jilbab hanya untuk nggaya atau sok-sokan atau mungkin hanya keinginan sesaat sehingga membuat saya grusa grusu dan tidak berpikir matang, yang berujung pada penyesalan dan kemudian ‘buka’ jilbab.Saturday, September 10, 2005
Jilbab..
Kalau membicarakan hal yang satu ini,pasti deh hati bawaannya adem mulu. Saya selalu berpikir bahwa betapa damainya hati para wanita berjilbab. Dan saya ingin menjadi salah seorang dari mereka. Tapi saya belum mampu dan belum siap dengan segala konsekuensi yang harus saya hadapi sesudahnya.Karena bagi saya kecantikan dan kharisma seorang wanita akan nampak manakala ia memakai jilbab.Karena pola pikir yang demikian itulah bagi saya bila seorang wanita memutuskan untuk menutupi auratnya dengan berjilbab maka ia harus mengimbanginya dengan cara ia bersikap dan bertutur kata.Tapi bukankah orang yang berjilbab walaupun buruk tingkah lakunya itu lebih baik daripada mereka yang sama sekali tidak berjilbab tapi berkelakuan sama? Hhhh… entahlah, saya tidak tahu. Yang jelas menurut saya, selama niat baik tetap ada di benak kita dan kita berusaha untuk “berjilbab” luar dalam, saya rasa hal itu sah-sah saja. Dalam artian kita sama sekali tidak bermaksud untuk berkelakuan buruk seperti yang orang kira.Karena tentu saja intensitas seseorang berkelakuan kurang baik atau tidak itu sangat relatif. Bisa saja yang menurut kita adalah hal yang biasa saja alias lumrah tapi menurut orang lain tidak demikian.Ingat, no body’s perfect.Mungkin karena alasan itulah sampai sekarang saya belum mengetukkan palu tiga kali untuk memakai jilbab secara permanen. Karena jujur saja, saya merupakan salah satu dari sedikit manusia yang memiliki nyali ciut alias pengecut. Saya masih takut dengan opini orang karena sikap saya yang belum pantas disandingkan dengan jilbab yang akan saya kenakan nanti.Masih banyak yang harus saya benahi dari diri saya sebelum meminang jilbab sebagai teman hidup saya. Jika saya berjilbab nanti saya ingin benar-benar lahir batin.Saya tidak mau memakai jilbab hanya untuk nggaya atau sok-sokan atau mungkin hanya keinginan sesaat sehingga membuat saya grusa grusu dan tidak berpikir matang, yang berujung pada penyesalan dan kemudian ‘buka’ jilbab.Sunday, August 28, 2005
(Bukan) Diriku
Banyak yang mengatakan bahwa sebelum mengenal orang lain alangkah baiknya bila terlebih dahulu kita mengenali diri kita sendiri.Dan sejauh ini yang saya ketahui dari diri saya adalah bahwa saya ini merupakan orang yang sangat aneh.Saya memiliki emosi yang tidak stabil,dan saya cenderung tidak bisa mengontrol emosi saya.Teman-teman bilang saya memiliki wajah melankolis,yang otomatis membuat mereka menyimpulkan bahwa saya ini adalah orang yang sering menangis alias cengeng.Saya tidak menyangkal hal itu, karena begitulah kenyataan nya.Bila sedang ada masalah saya tidak pernah bisa menyelesaikannya tanpa menangis he…he… Walaupun menangis tidak akan membuat masalah yang saya hadapi terselesaikan tapi setidaknya setelah menangis saya selalu merasa “plong”.Saya juga tidak tahu mengapa demikian.Apakah hal ini berkaitan dengan produksi air mata yang berlebih atau tidak saya juga tidak tahu.Bisa iya,bisa juga tidak.
Breathe when u breathe…
Walk when u walk…
Talk when u talk…
Cry when u cry…
Die when u die…
Let go when u let go…
(Allen Ginsberg)
Walk when u walk…
Talk when u talk…
Cry when u cry…
Die when u die…
Let go when u let go…
(Allen Ginsberg)
Bicara tentang emosi, saya ini cenderung meiliki emosi yang tidak stabil.Kadang saya bisa sangat baik hati tapi di lain waktu saya bisa menjadi sangat jahat.Dan yang paling saya takutkan adalah pilihan yang terakhir.Karena menjadi sangat jahatlah yang tampaknya selama ini sering saya lakukan.Entah kenapa saya sulit sekali mengontrol emosi saya sendiri.Baik buruknya emosi saya selalu bergantung pada orang-orang di sekitar saya,orang-orang yang penting dalam hidup saya.Secara langsung ataupun tidak mereka memegang kendali penuh terhadap pikiran saya.Hal inilah yang sampai sekarang tidak bisa saya ubah.Apakah mungkin ini karena mereka sumber inspirasi saya selama ini,sumber semangat,sumber kebahagiaan saya.Sehingga jika saya berselisih paham dengan mereka sedikit saja maka saya akan terus memikirkannya sampai beberapa waktu kemudian dan praktis hal itu akan mengganggu konsentrasi saya.
Saya adalah orang yang memiliki intensitas keegoisan yang cukup tinggi.Mudah sekali menemukan keburukan saya yang satu itu.Meskipun berulang kali saya mencoba untuk menekan ego saya, tapi tampaknya tak
banyak membuahkan hasil.Karena saya bukanlah tipe orang yang teratur alias disiplin.Dengan menahan ego saya, berarti saya telah membuat suatu peraturan yang harus saya taati.Merupakan beban yang teramat berat apabila saya harus memenuhi kewajiban yang seperti itu.Saya paling benci didikte.Saya mencint ai diri saya dengan segala kekurangannya, saya mencintai hidup saya, mencintai kebebasan dan kemerdekaan yang selama ini saya miliki.Mungkin karena itulah saya terkesan semaunya sendiri.Lantas, apa kabar dengan toleransi? Hehehe… entahlah.Saya sendiri sedang mencoba, sedang belajar.Tapi sungguh, saya berbuat demikian tanpa bermaksud menyakiti siapapun.Adalah suatu ketidaksengajaan apabila ada hati yang kurang berkenan dengan perbuatan dan tingkah laku saya.
Saya adalah orang yang memiliki intensitas keegoisan yang cukup tinggi.Mudah sekali menemukan keburukan saya yang satu itu.Meskipun berulang kali saya mencoba untuk menekan ego saya, tapi tampaknya tak
banyak membuahkan hasil.Karena saya bukanlah tipe orang yang teratur alias disiplin.Dengan menahan ego saya, berarti saya telah membuat suatu peraturan yang harus saya taati.Merupakan beban yang teramat berat apabila saya harus memenuhi kewajiban yang seperti itu.Saya paling benci didikte.Saya mencint ai diri saya dengan segala kekurangannya, saya mencintai hidup saya, mencintai kebebasan dan kemerdekaan yang selama ini saya miliki.Mungkin karena itulah saya terkesan semaunya sendiri.Lantas, apa kabar dengan toleransi? Hehehe… entahlah.Saya sendiri sedang mencoba, sedang belajar.Tapi sungguh, saya berbuat demikian tanpa bermaksud menyakiti siapapun.Adalah suatu ketidaksengajaan apabila ada hati yang kurang berkenan dengan perbuatan dan tingkah laku saya.
Subscribe to:
Posts (Atom)