Saturday, September 10, 2005

Jilbab..



Kalau membicarakan hal yang satu ini,pasti deh hati bawaannya adem mulu. Saya selalu berpikir bahwa betapa damainya hati para wanita berjilbab. Dan saya ingin menjadi salah seorang dari mereka. Tapi saya belum mampu dan belum siap dengan segala konsekuensi yang harus saya hadapi sesudahnya.Karena bagi saya kecantikan dan kharisma seorang wanita akan nampak manakala ia memakai jilbab.Karena pola pikir yang demikian itulah bagi saya bila seorang wanita memutuskan untuk menutupi auratnya dengan berjilbab maka ia harus mengimbanginya dengan cara ia bersikap dan bertutur kata.Tapi bukankah orang yang berjilbab walaupun buruk tingkah lakunya itu lebih baik daripada mereka yang sama sekali tidak berjilbab tapi berkelakuan sama? Hhhh… entahlah, saya tidak tahu. Yang jelas menurut saya, selama niat baik tetap ada di benak kita dan kita berusaha untuk “berjilbab” luar dalam, saya rasa hal itu sah-sah saja. Dalam artian kita sama sekali tidak bermaksud untuk berkelakuan buruk seperti yang orang kira.Karena tentu saja intensitas seseorang berkelakuan kurang baik atau tidak itu sangat relatif. Bisa saja yang menurut kita adalah hal yang biasa saja alias lumrah tapi menurut orang lain tidak demikian.Ingat, no body’s perfect.Mungkin karena alasan itulah sampai sekarang saya belum mengetukkan palu tiga kali untuk memakai jilbab secara permanen. Karena jujur saja, saya merupakan salah satu dari sedikit manusia yang memiliki nyali ciut alias pengecut. Saya masih takut dengan opini orang karena sikap saya yang belum pantas disandingkan dengan jilbab yang akan saya kenakan nanti.Masih banyak yang harus saya benahi dari diri saya sebelum meminang jilbab sebagai teman hidup saya. Jika saya berjilbab nanti saya ingin benar-benar lahir batin.Saya tidak mau memakai jilbab hanya untuk nggaya atau sok-sokan atau mungkin hanya keinginan sesaat sehingga membuat saya grusa grusu dan tidak berpikir matang, yang berujung pada penyesalan dan kemudian ‘buka’ jilbab.